BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Sebelum Piala Dunia, De la Fuente juga membawa Spanyol ke final UEFA Nations League 2024–25, melanjutkan tren positif yang dimulai ketika mereka mengangkat trofi UEFA EURO 2024. Spanyol saat ini bukan hanya kandidat kuat — mereka adalah tim yang sedang dalam puncak performa.

Namun ingatan pahit Qatar masih membayangi. Kala itu, Spanyol tampil gemilang di fase grup, termasuk menghancurkan Kosta Rika 7-0 dalam satu pertandingan paling dominan di turnamen tersebut. Tujuh gol yang tercipta lewat kombinasi umpan pendek, pergerakan tanpa bola, dan penyelesaian klinis itu seolah menjadi proklamasi: Spanyol siap juara. Namun sepak bola tidak selalu berjalan sesuai skenario.

Maroko di babak 16 besar menjadi tembok yang tak tertembus. Blok pertahanan rendah tim Afrika Utara itu berhasil mematikan ritme permainan Spanyol selama 120 menit penuh. Tak ada gol. Adu penalti menjadi algojo, dan Spanyol pun tersingkir dengan cara yang menyakitkan.

Pengalaman buruk itu menjadi bahan bakar. De la Fuente memahami bahwa tim yang hanya indah dilihat namun tidak mematikan ketika lawan bertahan rapat adalah tim yang tak lengkap. Perubahan pun dilakukan, dan hasilnya terlihat jelas dalam cara Spanyol bermain setelah Qatar.

Sejarah panjang Spanyol di Piala Dunia dimulai sejak 1934, ketika mereka langsung tampil impresif di debut mereka di Italia. Mereka mengalahkan Brasil di babak 16 besar, sebelum ditahan Italia 1-1 di perempat final dan kalah 1-0 di pertandingan ulangan. Italia kemudian menjadi juara, dan Spanyol pulang dengan kepala tegak meski tanpa trofi.



Follow Widget

Published by Punggawa Sport

Editor

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version