Di sinilah letak ironisnya: dunia yang selama ini dicap sebagai hiburan remaja yang menghabiskan waktu di depan layar kini justru menerapkan standar persiapan yang tidak kalah ketat dari cabang olahraga fisik konvensional. Esports, mau tidak mau, sudah dewasa.
Asian Games 2026 Aichi-Nagoya bukan sekadar ajang unjuk kemampuan. Bagi Indonesia, ini adalah kesempatan membuktikan bahwa investasi serius dalam ekosistem esports nasional bisa menghasilkan prestasi yang nyata di panggung Asia. Tekanan tentu ada, tapi Ela memilih membungkusnya dengan harapan.
“Harapan besar kami, atlet Indonesia bisa berjuang dan mendapatkan hasil terbaik untuk mengharumkan nama Indonesia di dunia,” tutupnya.
Kalimat penutup yang terdengar familiar—hampir setiap cabang olahraga mendengar mantra serupa menjelang turnamen besar. Bedanya, kali ini ada data sports science, ada dokter, ada ahli gizi, dan ada program latihan yang dipantau ketat yang berdiri di belakang harapan itu.
Apakah semua itu cukup untuk pulang membawa medali dari Jepang? Jawabannya ada di layar pertandingan, bukan di podium konferensi pers. Tapi setidaknya, Indonesia datang dengan persiapan—bukan sekadar datang.


Tinggalkan Balasan