Sejak peluit awal dibunyikan, Spanyol langsung mengambil kendali. Pedri, Gavi, Ferran Torres, Mikel Oyarzabal, dan Fabián Ruiz bergantian mengancam kotak penalti Tanjung Verde. Penguasaan bola didominasi habis-habisan oleh tim berjuluk La Roja itu. Secara kasat mata, ini seharusnya hanya soal waktu sebelum gol pertama tercipta.
Namun waktu terus berjalan, dan gol itu tak kunjung datang.
Pada menit ke-15, Pedri melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras, tapi ada tangan yang lebih deras lagi — tangan Vozinha. Kiper berusia 40 tahun itu menepis bola dengan tenang seolah tidak ada tekanan apa pun. Menit ke-39, sundulan Oyarzabal kembali dipapas bersih. Ferran Torres bahkan sempat melepaskan tembakan dari jarak dekat, namun bola membentur mistar gawang — mungkin itu momen paling menyakitkan bagi Spanyol di babak pertama.
Menjelang turun minum, intensitas serangan Spanyol makin tinggi. Rodri mencoba dengan sundulan dari dalam kotak penalti, Aymeric Laporte menyundul dari sudut sempit — semua gagal karena satu nama: Vozinha. Di usia yang bagi kebanyakan penjaga gawang sudah masuk kategori pensiun, pria itu justru tampil seperti sedang berada di puncak kariernya.
Babak kedua membawa narasi yang sama. Spanyol terus menghantam, Tanjung Verde terus bertahan. Menit ke-56, sundulan Fabián Ruiz ditangkap bersih. Menit ke-73, tembakan Mikel Merino dari dalam kotak penalti kembali diblok Vozinha. Menit ke-82, Marc Cucurella menyundul bola dari tengah kotak penalti — dan sekali lagi, Vozinha sudah berada di posisi yang tepat.


Tinggalkan Balasan