Lebih dari itu, Tanjung Verde tidak sepenuhnya bermain bertahan. Mereka sesekali balik menyerang. Dailon Livramento melepaskan tembakan jarak jauh pada menit ke-35. Jovane Cabral mencoba peruntungan dari tendangan bebas tiga menit kemudian. Di masa injury time, Kevin Pina melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Bahkan di menit ke-90+1, sundulan Diney Borges memaksa kiper Unai Simón turun tangan. Di menit ke-90+4, Ryan Mendes masih sempat melepaskan percobaan dari jarak jauh.
Tanjung Verde bukan tim yang datang hanya untuk tidak kalah. Mereka datang dengan rencana, dengan keyakinan, dan dengan keberanian yang tidak dimiliki banyak tim berlabel “underdog.”
Peluit panjang berbunyi di menit ke-90+6. Skor tetap 0-0. Pemain-pemain Tanjung Verde langsung melonjak, berpelukan, dan merayakan momen yang mungkin tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.
Bagi Spanyol, ini adalah malam yang menyakitkan. Mereka menguasai hampir seluruh aspek permainan — penguasaan bola, jumlah tembakan, peluang berbahaya — namun pulang tanpa gol. Ketika mesin terbaik Eropa itu tidak mampu membobol gawang yang dijaga seorang kiper 40 tahun dari tim debutan, ada sesuatu yang harus dievaluasi.
Bagi Tanjung Verde, ini adalah malam bersejarah yang layak dikenang selamanya. Mereka adalah tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang berhasil menahan imbang Spanyol pada laga pembuka turnamen. Dengan satu poin di tangan di laga perdana, mereka telah membuktikan bahwa sepak bola benar-benar permainan yang tidak bisa ditebak.


Tinggalkan Balasan