BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Banyak dari sepuluh pemain itu pernah mengenakan jersey Les Bleus di level junior. Kalidou Koulibaly, kapten sekaligus simbol tim, bahkan pernah tampil di Piala Dunia U-20 tahun 2011 membela Prancis. Dalam turnamen itu, ia berbagi lapangan dengan nama-nama yang kelak menjadi bintang dunia — Antoine Griezmann, Francis Coquelin, dan Alexandre Lacazette.

Pape Gueye, gelandang Villarreal yang menjadi pahlawan dengan gol penentu di final Piala Afrika terakhir, juga pernah menjadi pemain reguler tim U-18 dan U-19 Prancis. Jalurnya menuju Senegal bukan keputusan impulsif — melainkan hasil dari perenungan panjang soal jati diri.

Yang paling muda dan paling menarik perhatian adalah Ibrahim Mbaye. Pemain berusia 18 tahun yang kini berseragam Paris Saint-Germain ini telah menjadi andalan di berbagai kelompok usia Prancis, dari U-16 hingga U-20. Namun Senegal bergerak lebih cepat dari Didier Deschamps. Sebelum pelatih Prancis itu sempat memanggil Mbaye ke tim senior, Lions of Teranga telah menawarkan tempat kepadanya untuk tampil di Piala Afrika. Mbaye menerima.

Langkah agresif semacam itu bukan tanpa preseden. Senegal punya rekam jejak meyakinkan dalam “merebut” pemain berbakat dari antrian panjang calon pemain Prancis.

Bouna Sarr adalah contoh yang kontras sekaligus menarik. Pada Mei 2018, pemain kelahiran Prancis dengan ayah asal Senegal dan ibu asal Guinea itu dengan tegas menolak tawaran Federasi Sepak Bola Senegal (FSF). “Bagi saya, saya ingin bermain untuk Prancis. Tidak ada yang lain. Saya selalu bermimpi bermain untuk tim Prancis,” ujarnya kepada radio RMC ketika itu. “Saya orang Prancis, saya lahir di sini, saya hanya tertarik pada Les Bleus.”



Follow Widget

KLASEMEN PIALA DUNIA FIFA 2026