BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

“Itu adalah satu-satunya saat dalam hidup saya di mana saya melihat mereka bersemangat tentang sepak bola,” kata Koulibaly. Orang tuanya, yang biasanya melihat pertandingan bola seolah hanya permainan anak-anak di halaman sekolah, tiba-tiba berubah. “Mereka terlalu akrab dengan kesulitan kehidupan nyata untuk terganggu oleh sebuah permainan. Tetapi ketika saya melakukan panggilan video dan memberitahu ayah saya bahwa saya akan mewakili Senegal, saya bisa melihat cahaya di matanya.”

Bagi Koulibaly, cahaya di mata ayahnya itu adalah jawaban yang tidak membutuhkan perdebatan lebih lanjut. Di antara dua pilihan — Prancis dan Senegal — ia memilih yang membuat orang tuanya bersinar.

“Saya mewakili negara saya bukan hanya tentang pertandingan sepak bola. Ini tentang darah saya, dan sejarah saya, dan impian orang tua saya,” katanya.

Maka pada Rabu dini hari nanti, ketika Koulibaly dan sembilan rekannya melangkah ke lapangan menghadapi Prancis, mereka bukan sekadar bermain sepak bola. Mereka sedang menunaikan sebuah janji — kepada leluhur, kepada keluarga, dan kepada darah yang mengalir dalam tubuh mereka.

Prancis boleh menjadi tempat mereka lahir. Tapi Senegal adalah tempat mereka memilih menjadi diri sendiri.



Follow Widget

KLASEMEN PIALA DUNIA FIFA 2026