Namun mimpi itu terbentur realita. Pintu masuk ke timnas Prancis senior terlalu sempit, terlalu sesak dengan nama-nama besar. Tiga tahun berselang, pada September 2021, Bouna Sarr akhirnya menerima panggilan dari pelatih Senegal kala itu, Aliou Cissé, untuk kualifikasi Piala Dunia 2022. Ia tampil di setiap laga Piala Afrika 2021 dan menjadi bagian dari skuad yang mengangkat trofi juara dengan mengalahkan Mesir di final.
Kisah Koulibaly berbeda. Ia tidak butuh waktu lama untuk yakin. Tidak perlu melewati fase penolakan seperti Bouna Sarr. Sejak awal, ada sesuatu yang menariknya ke arah Senegal — dan ia menyebutnya sebagai rencana Tuhan.
“Saya selalu mengatakan bahwa saya adalah buah dari dua budaya, Prancis dan Senegal. Saya sangat bangga menjadi orang Prancis. Tetapi bagi saya, mewakili Senegal adalah rencana Tuhan,” kata Koulibaly.
Ia mengingat momen pada 2015, ketika Aliou Cissé baru saja mengambil alih kendali tim. Cissé meneleponnya langsung. “Kouli, kita akan memasuki siklus baru, dan kita membutuhkanmu. Kamu harus ikut bersama kami.” Koulibaly ketika itu masih pemain berusia 24 tahun yang lebih sering menghangatkan bangku cadangan Napoli daripada bermain.
Kepercayaan Cissé itulah yang menentukan segalanya. Koulibaly menerima tawaran itu, lalu menelepon orang tuanya untuk menyampaikan keputusannya. Dan apa yang terjadi berikutnya menjadi momen yang ia kenang sepanjang karier.


Tinggalkan Balasan