Penantian panjang itu mencapai klimaksnya di Afrika Selatan 2010. Belanda melibas satu per satu lawan-lawan tangguh, termasuk Brasil dan Uruguay, sebelum bertemu Spanyol di final Johannesburg. Namun gol tunggal Andres Iniesta di masa tambahan waktu kembali menghancurkan mimpi Oranje. Tiga final, tiga kekalahan — sebuah ironi tragis dalam sejarah sepak bola modern.
Di Piala Dunia terakhir di Qatar 2022, Belanda tampil dengan karakter berbeda: pragmatis dan tangguh. Mereka memuncaki grup berisi Senegal, Ekuador, dan Qatar, lalu menyingkirkan Amerika Serikat 3-1 di babak 16 besar. Semifinal tampak di depan mata ketika Wout Weghorst masuk sebagai pengganti pada menit ke-78, saat tim tertinggal 0-2 dari Argentina.
Apa yang kemudian terjadi menjadi salah satu drama terhebat di Piala Dunia 2022. Weghorst mencetak gol pada menit ke-83, lalu menyelesaikan skema tendangan bebas brilian untuk menyamakan kedudukan di menit ke-11 perpanjangan waktu. Adu penalti pun digelar — dan berakhir pilu. Virgil van Dijk dan Steven Berghuis gagal mengeksekusi, sementara kiper Argentina Emi Martinez tampil luar biasa untuk membawa negaranya menang 4-3.
Di luar hasil, Belanda juga mewariskan momen-momen ikonik bagi sejarah Piala Dunia. “Cruyff Turn” lahir di Jerman 1974, ketika Johan Cruyff memutar badan supersonik melewati pemain belakang Swedia dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya. Gol Dennis Bergkamp melawan Argentina di Prancis 1998 — kontrol dan sentuhan pertama yang sempurna kemudian diakhiri dengan penyelesaian tenang di sudut jauh — kerap masuk daftar gol terbaik sepanjang masa.
Dua tahun kemudian di Brasil 2014, pelatih Louis van Gaal menciptakan taktik revolusioner: memasukkan kiper Tim Krul 44 detik sebelum adu penalti melawan Kosta Rika, menggantikan kiper utama. Krul menggagalkan dua penalti dan Belanda menang 4-3. Taktik psikologis itu kini telah banyak ditiru tim-tim lain di seluruh dunia.
