Meski status tersingkir sudah final, federasi sepak bola Turki tetap mempertahankan Montella di kursi kepelatihan. Pelatih asal Italia itu kini mengincar kemenangan pertama Turki di ajang Piala Dunia sejak kemenangan 3-2 atas Korea Selatan pada perebutan tempat ketiga 2002, sebuah pencarian yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade.
Tren negatif Turki pun makin mengkhawatirkan jelang laga ini. Kekalahan dari Amerika Serikat berpotensi membuat mereka menelan tiga kekalahan beruntun di level internasional, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak Euro 2020.
Problem lain yang membayangi Turki adalah kemandulan lini depan. Jika gagal mencetak gol melawan AS, mereka akan mencatat tiga laga tanpa gol secara beruntun, kondisi yang terakhir kali terjadi pada periode 2010-2011.
Namun, sepak bola selalu menyisakan ruang untuk kejutan. Turki sebenarnya punya modal psikologis dari rekor pertemuan terakhir melawan Amerika Serikat, yakni kemenangan 2-1 dalam laga persahabatan tahun lalu di East Hartford.
Modal historis itu tentu tak bisa dipandang sebelah mata. Namun, konteks kedua laga sangat berbeda; laga persahabatan tak pernah benar-benar mencerminkan tekanan dan intensitas sebuah pertandingan Piala Dunia di hadapan publik sendiri.


Tinggalkan Balasan