Kiper Argentina Emiliano Martinez—yang tampil gemilang sepanjang turnamen—meminta rekan-rekannya menikmati momen bersejarah ini. “Pesan saya kepada rekan-rekan setim adalah mereka harus menikmati momen ini, bersiap dengan senyum di wajah kami. Ini adalah sesuatu yang akan kami ingat selamanya,” ujar Martinez dikutip dari Tribal Football.
Satu hal yang membuat duel ini istimewa adalah kesamaan cara bermain kedua tim. Spanyol dan Argentina sama-sama mengandalkan penguasaan bola sebagai senjata utama—menekan lawan, mengatur tempo, dan menciptakan ruang secara perlahan namun mematikan.
Xavi Hernandez, legenda Spanyol yang kini menjadi pundit, melihat kesamaan ini bukan sekadar kebetulan. Ia menyebutnya sebagai buah dari filosofi tiki-taka Barcelona yang akarnya sudah menjalar ke mana-mana. Dalam skuad La Roja saat ini, banyak pemain berasal dari Blaugrana. Sementara di Argentina, ada Lionel Messi—pria yang selama 17 tahun mengabdikan dirinya untuk Barcelona dan menyerap habis filosofi tersebut.
“Kami harus bangga dengan filosofi dan ide permainan ini. Ini adalah satu filosofi yang masih terus hidup. Kami berada di final dengan sistem permainan seperti ini, bahkan Argentina juga,” kata Xavi.
Javier Mascherano, yang pernah mengabdi di kedua kubu, menilai kemiripan gaya bermain kedua tim sudah di level yang mencolok. “Menurut saya, ini adalah dua tim terbaik di turnamen. Keduanya bermain dengan gaya serupa,” ujar mantan pemain Argentina dan Barcelona itu.


Tinggalkan Balasan