JAKARTA, PUNGGAWASPORT – Satu laga. Dua generasi. Final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol bukan sekadar perebutan trofi — ini adalah momen di mana sejarah dan masa depan sepak bola dunia beradu di lapangan yang sama.
Pengamat sepak bola Kesit Budi Handoyo membaca final ini dengan cara berbeda. Bagi dia, pertemuan Argentina dan Spanyol di partai puncak Piala Dunia 2026 bukan hanya soal strategi taktik dua pelatih. Ini adalah benturan antara dua era: Lionel Messi yang masih menyala di usia senja, berhadapan dengan Lamine Yamal yang sedang mekar di usia belia.
“Ini akan menjadi duel yang sangat menarik,” kata Kesit dikutip dari SinPo.id, Jumat, 17 Juli 2026. “Argentina punya Messi sebagai pembeda, sementara Spanyol memiliki pemain-pemain muda yang sedang berkembang dan punya peluang membawa negaranya menjadi juara dunia.”
Argentina tiba di final sebagai juara bertahan. Status itu bukan sekadar label — ini adalah beban sekaligus motivasi. Dan di pundak siapa beban itu paling banyak bertumpu? Jawaban Kesit tegas: Lionel Messi.
Di usia 39 tahun, Messi masih dipandang sebagai faktor penentu yang membedakan Argentina dari lawan-lawannya. Pengalaman bertahun-tahun di pentas tertinggi, naluri membaca permainan, dan kemampuan menciptakan gol dari situasi sulit — semua itu tetap menjadi senjata utama Albiceleste yang sulit ditandingi secara individual.
“Argentina memang menjadi favorit. Mereka memiliki kedalaman skuad yang bagus dengan Lionel Messi sebagai faktor pembedanya. Wajar kalau mereka diunggulkan karena juga datang sebagai juara bertahan,” ujar Kesit.
Namun Spanyol datang bukan untuk sekadar tampil. La Roja hadir dengan wajah yang benar-benar berbeda dari generasi sebelumnya — bukan lagi bergantung pada nama-nama mapan, melainkan bertumpu penuh pada energi dan keberanian para pemain muda yang tampil lapar sepanjang turnamen ini.
Lamine Yamal menjadi simbol paling kuat dari kebangkitan itu. Winger muda Barcelona ini tampil melebihi ekspektasi — kecepatan yang merobek pertahanan, kreativitas yang tidak terduga, dan ketenangan di situasi krusial yang kerap membuat lawan kelabakan. Kesit menilai kehadiran Yamal sebagai salah satu kekuatan utama Spanyol yang tidak boleh dianggap remeh oleh Argentina.
Di sekeliling Yamal, nama-nama seperti Pedri dan Dani Olmo turut menjadi tulang punggung permainan La Furia Roja. Ketiganya bukan pemain yang sudah mencapai puncak karier — mereka adalah calon bintang yang sedang dalam proses menjadi besar. Dan Piala Dunia ini, menurut Kesit, bisa jadi panggung peluncuran mereka ke level tertinggi.
“Spanyol memang mungkin tidak banyak memiliki bintang yang sudah mapan. Tetapi mereka punya calon-calon bintang seperti Lamine Yamal, Pedri, dan Dani Olmo yang sedang berproses,” kata Kesit.
Yang membuat Spanyol semakin berbahaya bukan hanya soal nama, melainkan cara mereka bermain. Kesit menilai La Roja tampil lebih kolektif dibandingkan Argentina sepanjang turnamen. Pola satu-dua sentuhan yang mengalir rapi dari lini ke lini membuat mereka konsisten menciptakan peluang berbahaya di setiap pertandingan.
Dari fase grup hingga babak semifinal, Spanyol memperlihatkan konsistensi yang sulit dibantah. Mereka sabar menguasai bola, namun berubah menjadi sangat cepat dan mematikan begitu memasuki sepertiga akhir pertahanan lawan. Pendekatan kolektif inilah yang membuat Spanyol tidak bergantung pada satu sosok, berbeda dari Argentina yang masih sangat mengandalkan sihir Messi.
“Sejak fase grup sampai semifinal mereka terus memperlihatkan penampilan yang begitu impresif. Mereka sangat sabar memainkan bola, tetapi begitu masuk ke area pertahanan lawan, mereka sangat cepat menciptakan peluang,” jelas Kesit.
Namun faktor pengalaman tetap menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan. Messi sudah merasakan pahitnya kekalahan di final, menjalani perjalanan panjang menuju puncak, dan akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia pada 2022. Rekam jejak itu membentuk mentalitas yang berbeda — ketenangan di bawah tekanan yang tidak bisa dibeli dengan bakat semata.
Itulah yang membuat Kesit menilai Argentina tetap layak difavoritkan, meski Spanyol jelas bukan lawan yang bisa diremehkan. Final ini, menurut dia, menjanjikan tontonan yang bukan hanya soal siapa yang lebih kuat, melainkan juga siapa yang lebih lapar.
Messi ingin menulis bab terakhir yang sempurna dalam karier terpanjangnya. Yamal ingin membuktikan bahwa generasinya sudah siap mengambil alih panggung dunia. Keduanya bertemu di waktu yang tepat, di tempat yang paling bergengsi.
Final Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ini adalah momen di mana legenda dan masa depan saling menatap — dan hanya satu yang akan pulang membawa trofi emas.
FAQ
Mengapa Argentina diunggulkan di final Piala Dunia 2026?
Argentina diunggulkan karena berstatus juara bertahan dengan skuad yang dalam, ditambah kehadiran Lionel Messi yang masih dinilai sebagai faktor pembeda terbesar di turnamen ini.
Apa kekuatan utama Spanyol yang bisa mengalahkan Argentina?
Spanyol mengandalkan permainan kolektif yang impresif dan konsisten, didukung pemain muda berbakat seperti Lamine Yamal, Pedri, dan Dani Olmo yang tampil lapar dan tidak terbebani tekanan nama besar.
Siapa Lamine Yamal dan mengapa ia menjadi sorotan di final ini?
Lamine Yamal adalah winger muda Spanyol yang tampil menonjol sepanjang Piala Dunia 2026 berkat kecepatan, kreativitas, dan keberaniannya, menjadikannya simbol kebangkitan generasi baru La Furia Roja.


Tinggalkan Balasan