BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Ronaldo Nazario tidak perlu waktu lama untuk menjawab. Bagi legenda Brasil yang dua kali mengangkat trofi Piala Dunia itu, pemenang laga final antara Spanyol dan Argentina sudah jelas—La Roja.

Final Piala Dunia 2026 edisi ke-23 akan digelar di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, pada Senin, 20 Juli 2026, mulai pukul 01.00 WIB dini hari. Laga akbar ini akan disiarkan langsung oleh TVRI Sport dan TVRI Nasional, mempertemukan dua kekuatan sepak bola dunia yang sama-sama lapar gelar.

Di tengah antusiasme publik global yang memuncak, suara Ronaldo Luis Nazario de Lima menjadi salah satu yang paling dinantikan. Mantan striker yang dijuluki O Fenomeno ini bukan orang sembarangan dalam menilai sebuah tim—ia tahu persis seperti apa rasanya berdiri di puncak sepak bola dunia.

“Spanyol akan menang dengan mudah. Mereka selalu menjadi favorit, bersama dengan Prancis,” kata Ronaldo, seperti dikutip dari Record.

Pernyataan itu bukan sekadar firasat. Ronaldo, yang memperkuat timnas Brasil dari Maret 1994 hingga Juni 2011 dengan 99 caps dan 62 gol, memberikan alasan yang mendasar dan mengakar. Ia melihat Spanyol bukan sekadar tim yang sedang dalam performa bagus—mereka adalah produk dari sistem sepak bola yang telah dibangun selama puluhan tahun.

“Itu sudah ada dalam DNA mereka. Mereka telah bermain seperti ini selama bertahun-tahun; mereka sudah melakukannya sejak kecil,” ujarnya.

Gaya bermain Spanyol memang bukan sesuatu yang lahir dalam semalam. Sejak era tiki-taka yang mendunia di akhir 2000-an, La Roja telah membentuk identitas kolektif yang sulit ditiru: penguasaan bola, pergerakan tanpa henti, dan transisi yang cepat. Di Piala Dunia 2026, filosofi itu tampak semakin matang dan mematikan.

Peraih dua gelar Ballon d’Or—pada 1997 dan 2002—itu secara khusus menyoroti satu hal yang menurutnya membedakan Spanyol dari tim lain: otomatisasi permainan. Pemain La Roja tidak perlu berpikir terlalu panjang di atas lapangan karena naluri dan pemahaman kolektif mereka sudah terbangun sangat dalam.

“Permainan Spanyol sangat otomatis. Mereka tahu apa yang harus dilakukan di setiap momen,” kata Ronaldo.

Namun demikian, Ronaldo bukan tipe legenda yang meremehkan lawan. Ia juga memberikan pengakuan tulus terhadap perjalanan Argentina di turnamen ini—sebuah perjalanan yang, menurut dia, layak mendapat tepuk tangan tersendiri.

Argentina memang tampil dengan semangat yang sulit dijelaskan hanya lewat angka statistik. Tim besutan pelatih mereka bangkit dari tekanan demi tekanan, menunjukkan mentalitas juara yang tidak padam meski diuji situasi sulit sepanjang turnamen.

“Mereka memiliki kisah yang sangat indah di Piala Dunia ini. Argentina adalah tim yang menunjukkan semangat luar biasa untuk bangkit dari kesulitan serta semangat juang yang tinggi,” ucap Ronaldo.

Pernyataan itu menempatkan Argentina bukan sebagai tim yang lemah, melainkan sebagai pejuang sejati yang telah membuktikan diri layak berada di partai puncak. Namun dalam pandangan Ronaldo, semangat saja tidak cukup untuk mengalahkan mesin sepak bola seperti Spanyol.

Ronaldo sendiri tahu benar seperti apa tekanan di final Piala Dunia. Ia merasakannya pertama kali pada 1994 saat Brasil mengalahkan Italia lewat adu penalti di Rose Bowl, Pasadena—meski saat itu ia masih sangat muda dan belum tampil. Delapan tahun kemudian, pada 2002 di Yokohama, ia menjadi bintang utama saat Brasil menggilas Jerman 2-0 di final, dengan dua golnya yang membekas dalam sejarah.

Pengalaman hidup di panggung terbesar itulah yang memberi bobot pada setiap penilaian Ronaldo. Ia tidak berbicara sebagai penonton biasa, melainkan sebagai seseorang yang pernah merasakan tekanan, euforia, dan kesakralan sebuah final Piala Dunia.

Di sisi lain, kehadiran final Spanyol vs Argentina sejatinya merupakan benturan dua filsafat sepak bola yang kontras. Spanyol mengandalkan sistem—terstruktur, presisi, dan kolektif. Argentina bertumpu pada karakter—hasrat, individualitas, dan mentalitas pantang menyerah.

Keduanya sudah membuktikan diri sepanjang turnamen. Keduanya berhak berada di sini. Namun menurut Ronaldo, ada satu faktor yang tidak bisa dilawan oleh hasrat sekalipun: konsistensi sistem yang sudah mengakar kuat.

Bagi jutaan penonton di Indonesia yang akan menyaksikan laga ini mulai tengah malam, pertanyaannya tinggal satu: apakah Argentina mampu memupus prediksi sang O Fenomeno, atau Spanyol akan membuktikan bahwa DNA juara mereka memang tidak pernah berubah?

FAQ

Siapa yang diprediksi Ronaldo Nazario sebagai pemenang final Piala Dunia 2026?
Ronaldo Nazario memprediksi Spanyol akan memenangkan final Piala Dunia 2026 melawan Argentina, menyebut La Roja sebagai favorit kuat karena sistem dan DNA sepak bola mereka yang sudah tertanam sejak lama.

Di mana dan kapan final Piala Dunia 2026 digelar?
Final Piala Dunia 2026 digelar di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, pada Senin, 20 Juli 2026, pukul 01.00 WIB dini hari, dan disiarkan langsung oleh TVRI Sport serta TVRI Nasional.

Mengapa Ronaldo Fenomeno memuji Argentina meski memilih Spanyol sebagai favorit?
Ronaldo mengakui Argentina menampilkan semangat juang dan kisah kebangkitan yang luar biasa sepanjang turnamen, namun ia menilai otomatisasi dan kematangan sistem permainan Spanyol lebih sulit untuk dikalahkan.



Follow Widget

KLASEMEN PIALA DUNIA FIFA 2026