Di balik keakraban itu, Silva juga menyentuh tantangan struktural yang dihadapi Portugal sebagai tim nasional. Berbeda dengan Jerman atau Spanyol yang sebagian besar pemainnya tumbuh dalam ekosistem liga domestik yang homogen, para pemain Portugal berserakan di berbagai liga Eropa dengan gaya bermain yang berbeda-beda.
“Kami bermain di liga yang berbeda dengan filosofi yang juga berbeda. Waktu bersama di tim nasional sangat terbatas, sehingga adaptasi selalu menjadi tantangan,” jelas Silva.
Meski begitu, ia meyakini bahwa dalam format sistem gugur, faktor psikologis justru lebih menentukan daripada kesiapan taktik semata. Emosi, intuisi, dan momen-momen kecil — itulah yang kerap menjadi pembeda antara tim yang pulang lebih awal dan yang melaju jauh.
Di sisi lain, pelatih Kroasia Zlatko Dalic meminta publik menghargai pencapaian timnya lolos ke fase gugur. Bagi Dalic, itu bukan hal kecil — mengingat tekanan dan kritik yang datang setelah kekalahan dari Inggris di laga pembuka.
“Saya pikir kami kembali ke posisi seperti delapan tahun lalu. Ini baru langkah kecil untuk mencapai tujuan pertama, yaitu lolos ke babak gugur,” kata pelatih berusia 59 tahun itu.


Tinggalkan Balasan