Jawaban datang pada menit ke-85. Enzo Fernandez mundur sejenak, mengukur jarak, lalu melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras, melengkung tipis, dan bersarang di sudut gawang tanpa bisa dijangkau Pickford. Stadion berguncang. Skor imbang 1-1, dan laga kembali terbuka sepenuhnya.
Dalam pikiran banyak orang, pertandingan sepertinya sudah menuju babak tambahan. Namun Argentina rupanya punya rencana lain.
Di menit ke-90 plus dua—saat injury time hampir habis—Lionel Messi menerima bola di sayap. Ia tak membuang waktu. Dengan tenang dan presisi yang hanya dimiliki pemain terbaik dunia, Messi mengirim umpan silang akurat ke depan gawang. Lautaro Martinez sudah mengambil ancang-ancang, melompat, lalu menyundul bola ke dalam jaring.
Gol. Argentina unggul 2-1.
Sisa detik berikutnya menjadi kekacauan murni—pemain Argentina berlarian ke segala arah, Messi berlutut di lapangan, dan tim pelatih Scaloni meluapkan euforia di pinggir lapangan. Inggris, yang sudah begitu dekat dengan final, harus pulang dengan tangan kosong.
Comeback ini bukan sekadar hasil pertandingan biasa. Ini adalah pernyataan dari tim yang pernah juara dunia dua tahun lalu bahwa mereka masih lapar gelar. Argentina membuktikan bahwa tekanan tidak membuat mereka pecah—justru sebaliknya.


Tinggalkan Balasan